“Everything in the world is about sex. Except sex. Sex is about power.” (Oscar Wilde) Ketika Ichan dari Paper Zine bertemu saya di Bandung bulan oktober kemarin, penggenjot BMX garis keras itu secara pribadi meminta saya menyumbang sebuah tulisan untuk edisi ke-12 Paper Zine. Dan jujur saya agak bingung saat Ichan menyodorkan tema edisi ke-12 … Lanjutkan membaca Sebuah Kuasa Bernama Seks
Penulis: Aris Setyawan
Review: “Kekerasan Budaya Pasca 1965”
Gambar dari boemipoetra.wordpress.com Jika disuruh memilih hidup tenang namun dengan segala kepalsuan, atau hidup dengan kegelisahan karena mengetahui adanya kepalsuan yang mengatur hidup kita. Mana yang akan kita pilih? Saya otomatis memilih yang kedua setelah membaca buku karya Wijaya Herlambang berjudul Kekerasan Budaya Pasca 1965. Diterbitkan oleh penerbit Marjin Kiri pada bulan November 2013, buku … Lanjutkan membaca Review: “Kekerasan Budaya Pasca 1965”
Mixtape: Musik Saat Hujan
Bagi kebanyakan orang hujan adalah fenomena alam biasa. Saat air tumpah dari langit membasahi bumi. Siklus alam yang memang rutin terjadi: Air di bumi menguap, berkumpul di cumulus nimbus, menjadi air lagi, lalu tumpah ke bumi. Inilah hujan. Namun bagi beberapa orang hujan dimaknai lebih dari sekadar fenomena alam. Hujan adalah sesuatu yang sentimentil, membangkitkan … Lanjutkan membaca Mixtape: Musik Saat Hujan
Ruang
Setelah satu semester memprotes, biasanya sang murid kritis akan bosan. Lalu mengamini perkataan Haruki Murakami bahwa “hal terbaik dari sekolah adalah, kita jadi tahu hal terbaik di hidup ini tak bisa didapatkan dari sekolah.” Maka sang murid mulai sering bolos, meninggalkan ruang kelas, lalu bersekongkol dengan kameradnya membuat ruang belajar alternatif di luar ruang kelas.
Radikal Itu Menjual: Budaya Perlawanan Atau Budaya Pemasaran?
Membaca “Radikal Itu Menjual” saya sedikit banyak ikut mempertanyakan budaya-tanding: bagaimana kalau ternyata perlawanan ini tidak pernah ada? Saya, anda, kita semua adalah bagian dari mekanisme besar jual-beli a la kapitalisme ini.
Demi Ucok
Bukan, ini bukan tulisan mengenai film Demi Ucok yang bagus itu. Ini mengenai Herry Sutresna alias Morgue Vanguard, alias Ucok. Nama yang telah dikenal luas sebagai dedengkot hip-hop Indonesia dengan kolektif rap politik asal Bandung bernama Homicide. Kolektif berbahaya yang sayangnya telah almarhum tahun 2007 silam. Tulisan singkat ini hanya sebentuk testimoni. Cerita betapa saya … Lanjutkan membaca Demi Ucok
Setelah Membaca, Saya Menulis
Akhir-akhir ini saya banyak membaca. Lebih banyak buku saya lahap dari biasanya. Entah dalam rangka kejar tayang atau apa. Saya sedang begitu semangat membaca, otak saya memaksa asupan nutrisi yang lebih, organ kesayangan saya itu ingin tahu lebih banyak hal. Jadilah saya selesai membaca 6 judul buku dalam waktu yang tidak terlalu lama. Setelah membaca, … Lanjutkan membaca Setelah Membaca, Saya Menulis
Tukang
Percuma jadi tukang sarjana, tukang insinyur, atau tukang-tukang berdasi di kantor pemerintah dan swasta, jika hanya untuk menipu dan membodohi tukang becak, tukang tambal ban, tukang gali kubur, dan tukang-tukang lain di sektor informal dan kelas menengah ke bawah.
Seni Untuk Apa?
(Dimuat di majalah Art Effect edisi juni 2013) Seni untuk apa? Sebuah pertanyaan yang barangkali aneh karena dilontarkan oleh akademisi yang kuliah di sebuah perguruan tinggi seni, institusi paling tua di negeri ini pula. Tapi saya rasa pertanyaan ini sah-sah saja kita lontarkan, agar kita tahu “ngapain sih kita kuliah di kampus seni?” agar kita … Lanjutkan membaca Seni Untuk Apa?
PHP (Pemberi Harapan Palsu)
Harapan adalah anugerah paling besar yang membuat manusia bergerak mengubah dunia. Tentu banyak orang setuju dengan pernyataan tersebut. Sekeras apapun jalan hidupmu, selama ada harapan, niscaya akan selalu ada jalan mengubahnya menjadi lebih baik dan menyenangkan. Karena dunia ini indah selama ada harapan yang….. Ok, cukup sudah utopia di paragraf pertama. Seperti biasa tulisan saya … Lanjutkan membaca PHP (Pemberi Harapan Palsu)









