(Dimuat di majalah Art Effect edisi juni 2013) Seni untuk apa? Sebuah pertanyaan yang barangkali aneh karena dilontarkan oleh akademisi yang kuliah di sebuah perguruan tinggi seni, institusi paling tua di negeri ini pula. Tapi saya rasa pertanyaan ini sah-sah saja kita lontarkan, agar kita tahu “ngapain sih kita kuliah di kampus seni?” agar kita … Lanjutkan membaca Seni Untuk Apa?
Kategori: Tak Berkategori
PHP (Pemberi Harapan Palsu)
Harapan adalah anugerah paling besar yang membuat manusia bergerak mengubah dunia. Tentu banyak orang setuju dengan pernyataan tersebut. Sekeras apapun jalan hidupmu, selama ada harapan, niscaya akan selalu ada jalan mengubahnya menjadi lebih baik dan menyenangkan. Karena dunia ini indah selama ada harapan yang….. Ok, cukup sudah utopia di paragraf pertama. Seperti biasa tulisan saya … Lanjutkan membaca PHP (Pemberi Harapan Palsu)
Attitude & Signature ‘Istas Promenade’: Formula Album Baru Answer Sheet
( Dimuat di Jakartabeat, 27 April 2013. http://jakartabeat.net/musik/kanal-musik/album/item/1740-attitude-dan-signature-istas-promenade-formula-album-baru-answer-sheet.html#.UY8mOEraHIU ) Pada umumnya kebanyakan orang menganggap nada dalam musik diatonis hanya ada 7, dari do hingga si. Itu nada mayor yang ceria, kemudian nada tersebut menjadi bertambah banyak saat divariasikan menjadi minor yang lebih menggambarkan suasana sedih. Nada dalam musik lantas semakin banyak jika ditingkahi dengan berbagai … Lanjutkan membaca Attitude & Signature ‘Istas Promenade’: Formula Album Baru Answer Sheet
Curhat Seorang Mahasiswa Etnomusikologi Yang Baru Saja Patah Hati
Pertama perlu dipahami bahwa tulisan ini bukanlah makalah dengan basis teori rigid yang berangkat dari berbagai teori muluk-muluk. Tulisan ini murni didasarkan pada subyektifitas saya, seorang mahasiswa Etnomusikologi yang baru saja patah hati, dua kali lagi, yang pertama karena putus hubungan dengan seorang perempuan, yang kedua karena makin sadar telah menjadi korban PHP (pemberi harapan … Lanjutkan membaca Curhat Seorang Mahasiswa Etnomusikologi Yang Baru Saja Patah Hati
Surat Untuk Ikun: Mengenai Nasib Petani Di Negeri Ini
Dear Ikun Apa kabarmu di sana bung? Semoga sehat selalu dan tidak terkena godaan PHP yang terkutuk ya. Sudah begitu lama kita tidak berjumpa. Terakhir kali kita bertemu adalah beberapa tahun lalu saat kau masih mengikuti tes masuk kuliah di STAN. Kampus yang kau bilang aneh karena sekolah bukannya bayar malah dibayarin, lulus langsung bekerja. … Lanjutkan membaca Surat Untuk Ikun: Mengenai Nasib Petani Di Negeri Ini
Konser Intim Tiga Band ‘Suara Tujuh Nada’ di Yogyakarta
( Dimuat di Jakartabeat, 11 maret 2013. http://jakartabeat.net/musik/kanal-musik/konser/item/1707-konser-intim-tiga-band-suara-tujuh-nada-di-yogyakarta.html#.UUS8sBfIYl8 ) Rumah itu terletak di sebuah gang sempit di kawasan Bugisan, Yogyakarta. Di depannya terbentang pemandangan sawah luas. Rumah itu adalah markas dari Teater Garasi, sebuah tempat yang mewadahi kesenian teater, musik dan lain sebagainya. Dan mendadak pada Kamis malam, 7 Maret 2013 lalu rumah di gang sempit pinggiran … Lanjutkan membaca Konser Intim Tiga Band ‘Suara Tujuh Nada’ di Yogyakarta
Membaca Gejala Dari Jelaga
Warning: Sebelum membacanya terlalu jauh, ini bukan mengenai sebuah grup rap politik asal Bandung bernama Homicide. Ini merupakan curahan hati bimbang seorang lelaki biasa yang bermimpi menjadi peternak kucing yang hobi menanam wortel. Jadi sebelum terlambat, jangan teruskan membaca. To whom it may concern. Awalnya biasa saja, kamu datang dengan sebuah senyuman yang menenangkan, sikap … Lanjutkan membaca Membaca Gejala Dari Jelaga
Menjadi Manusia
Sebut saja namanya Pletho. Remaja berusia kurang lebih 16 tahun ini berkeliaran di jalanan, bersama sekitar 24 orang temannya tinggal dan mencari nafkah di sekitar Jl. Mangkubumi hingga perempatan Tugu Yogyakarta. Julukan untuk mereka cukup eksotis, dalam rangka menaikkan derajat kita sebagai manusia normal, serta memarjinalkan mereka, lantas kita menyebut mereka “anak jalanan.” Anak-anak yang … Lanjutkan membaca Menjadi Manusia
Seni Tanpa Batas
Siang itu seperti biasa warung rakyat Mas Poer ramai oleh para mahasiswa ISI Yogyakarta yang lapar dan memutuskan makan di sana karena harganya yang aduhai, murah. Saya adalah salah satu mahasiswa lapar itu. Ketika saya tengah menyantap nasi berlauk sayur bayam dan tempe, tiba-tiba telinga saya tergelitik suatu bunyi, kemudian mata memutuskan menatap ke luar, … Lanjutkan membaca Seni Tanpa Batas
Cetar Membahana dan Seni Tanpa Arah
( Dimuat di Jakartabeat, 14 November 2012 http://jakartabeat.net/humaniora/kanal-humaniora/esai/item/1614-cetar-membahana-dan-seni-tanpa-arah.html#.UKjhD-QQboI ) Tiba-tiba frasa pada judul diatas semakin terkenal belakangan ini. Bukan karena frasa tersebut merupakan mantra ajaib, melainkan karena dilontarkan seorang penyanyi berjambul yang kadang dandanannya melebihi kualitas olah vokal dan performa panggungnya. "Cetar Membahana" (entah apapun artinya itu) diujarkan sang penyanyi perempuan yang kebetulan menjadi juri di sebuah … Lanjutkan membaca Cetar Membahana dan Seni Tanpa Arah








